Kamis, 15 Agustus 2013

PUISI SEPATU saat AKU TUA NANTI


Di saat daku membutuhkanmu untuk memandikanku janganlah menyalahkanku ingatlah di masa kecilmu bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi ?

di saat daku kebingungan menghadapi hal hal baru dan tekhnologi modern jangan menertawaiku renungkanlah bagaimana daku dengan sabar menjawab setiap "mengapa"  yang kau ajukan di saat itu 

di saat kakiku terlalu lemah untuk berjalan ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untyk memapahku bagaimana di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar belajar.

di saat daku melupkan TOPIK pembicaraan kita berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya sebenarnya topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku asalkan engkau berada di sisiku untuk mendengarku daku telah bahagia.

di saat engkau melihat diriku menua janganlah bersedih maklumilah diriku dukunglah daku bagaikan daku terhadapmu di saat engkau mulai belajar tentang KEHIDUPAN 

dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini ,kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku
berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu daku akan menerimanya dengan senyum penuh syukur di dalam senyumku ini tertanam KASIHKU YANG TAK TERHINGGA UNTUKMU

walaupun banyak orang MELAKUKAN BERIBU RIBU KEBAJIKAN, tetapi tidak melakukan BHAKTI kepada ibu dan ayah KEBAJIKANNYA hanyalah 
sia - sia belaka



DENGAR SUARA HATI 
MELIHAT DENGAN MATA HATI 
KAU SELAU DI HATIKU SAAT KAU TERSENYUM

Minggu, 11 Agustus 2013

NO NAME sang PENJAGA hati TANPA NAMA

di pelupuk Mata ini masih ingat waktu aku masih kecil saat aku ditimang dan disusui DI UJUNG MATA INI MASIH TERNIANG saat besar nanti aku ingin menjadi apa DI DALAM hati ini masih jelas terlihat siapa aku,bukan kata - kata ,NAMA atau GAMBAR dengan wajah burukku YANG menjelaskan siapa AKU tapi GORESAN takdir yang ada di kedua TELAPAK TANGAN ini yang menjelaskan kenapa AKU SEPERTI INI suatu saat nanti suatu hari nanti NAMA dan apapu n itu namanya TAK BERARTI LAGI buatku TAPI PELUKAN ibuku dan kasih sayang bapakku AKAN MENGAJARKAN aku untuk PULANG ke rumah


AKU yang tidak bisa menerima mempunyai NAMA
sumber BANTUAN : http://dokumengunawans.blogspot.com/2013/07/siapa-aku.html

12 - 08 - 2013

Sabtu, 13 Juli 2013

Chairil Anwar Deru Tjampur DEBU

Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun), dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.
Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.